Ing ngarso sun tuladha ing madya mangun karsa tut wuri handayani

Animasi

Cari Blog Ini

Selasa, 12 April 2011

Belajar

PEMBAHASAN
Setiap manusia mempunyai 3 macam kewajiban, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkannya dan juga mengajarkannya kepada orang lain. Menuntut ilmu atau belajar tidak hanya dilakukan oleh manusia di zaman sekarang saja melainkan juga dilakukan oleh orang-orang sebelum Rasulullah, bahkan Rasulullah sendiri mengalaminya, kejadian ini terjadi ketika beliau berusia 40 tahun, ayat pertama yang beliau terima adalah Q.S Al-Alaq: 1-5
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
Artinya:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat tersebut mengajarkan kepada kita semua tentang betapa pentingnya belajar atau membaca. Membaca akan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dengan kegiatan inilah manusia memperoleh ilmu pengetahuan dan juga pengalaman yang diperlukan dalam hidupnya. Namun dalam belajar itu, Allah memberikan tuntunan agar motifasi atau niat di dalam belajar itu hanya semata-mata karena Allah , kalau sudah begitu maka yang didapatkannya itu akan mendekatkan hubungan manusia dengan khaliqnya dan bukan sebaliknya.
A. Teori tentang Belajar
Teori yang berkaitan tentang belajar dibagi menjadi 3, yaitu: Ilmu jiwa daya, ilmu jiwa gestalt, ilmu jiwa asosiai.
Ø Teori belajar menurut ilmu jiwa daya
Jiwa manusia terdiri dari bermacam-macam daya. Masing-masing daya dapat dilatih dalam rangka dapat memenuhi tugas dan fungsinya. Untuk meltih semua daya itu dpat digunakan berbagai cara atau bahan.
Ø Teori belajar menurut ilmu jiwa gestalt
Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian unsur. Sebab keberadaannya keseluruhan itu juga lebih dulu. Sehingga dalam kegiatan belajar bermula pada suatu pengamatan keterlibatan semua panca indera itu sangat diperlukan.
Ø Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi
Ilmu ini berperinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya.
Sedangkan menurut Oemar Hamalik membagi teori tentang belajar menjadi 6 bagian, yaitu: Conditioning, Connectionisme, Field Theory, Psikologi Fenomenologis dan Humanistis, Definisi secara Relatif, Teori belajar dalam Situasi di Sekolah.
B. Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang menentukan dan mempengaruhi serta sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku seseorang. Selain pengertian tersebut, masih banyak pendapat yang dikemukakan dari para ahli yang menerangkan dan mengulas pengertian belajar, diantaranya adalah:
Ø Nana Syaodih Sukmadinata (2005): menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlngsung melalui kegitan belajar.
Ø Sardiman (2006): “Suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh”.
Ø Trianto (2009): “Belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dengan sesuatu (pengetahuan) yang baru”
Masih banyak lagi tentunya pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang belajar itu sendiri. Dari beberapa pengertian belajar tersebut di atas, intinya adalah berubah, berubah seperti apa yang dimaksud, yaitu perubahan yang tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri dan berdasarkan hasil dri pengalaman.
C. Faktor-faktor psikologis dalam Belajar
Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku seseorang, ternyata banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Menurut Gagne (Abin Syamsudin Makmun, 2003), perubahan perilaku yng merupakan hasil belajar dapat berbentuk: informasi ferbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan kecakapan motorik.
Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam: kebiasaan, keterampilan, pengamatan, berfikir asosiatif (berfikir yang menggunakan daya ingat), berfikir rasional dan kritis, sikap, inhibisi (menghindari akan hal-hal yang mubazir), apresiasi (menghrgai karya-karya yang bermutu), dan perilaku afektif.
Sementara itu menurut Abudin Nata yang mengutip dari S. Bloom berpendapat bhwa perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan, yakni: kawasan kognitif, kawasn afektif dan juga kawasan psikomotor. Masing-masing matra atau domain dirinci lagi menjadi beberapa jangkauan (level of competence).
Ø Kognitif domain (aspek keterampilan berfikir): knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemhaman, menjelaskan, meringkas, contoh), analysis (mengeruaikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk hubungan baru), evaluation (menilai), dan aplication (menerapkan).
Ø Affective domain (aspek keterampilan dalam menghayati dan menyadari tentang berbagai hal yang diketahui sehingga terdorong untuk mengerjakannya): receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (menilai), organization (orgnisasi), characterization (krakterisasi).
Ø Psychomotor domain (aspek keterampilan dalam mempraktikkan sebuah konsep yang telah diphami dan ditaati: persepsi, kesiapan, gerak terbimbing, gerak yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan kreativitas.
Taksonomi perilaku tersebut di atas menjadi rujukan dlam proses pendidikan terutama kaitannya dengan usaha dan hasil pendidikan. Segenap usaha pendidikan seyogyanya diarahkan untuk terjadinya perubahan perilaku peserta didik secara menyeluruh, dengan mencakup semua kawasan perilaku. Ketiga aspek tersebut (kognitif, afektif, dan psikomotorik) merupakan keterampilan, yaitu: keterampilan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, menyintesis dan mengevaluasi yang dilanjutkan dengan keterampilan menerima, berpartisipasi, memgorganisasi dan membentuk pola hidup serta dilanjutkan dengan kemampuan mempersepsi, mempersiapkan diri, melakukan gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan dn menghsilkan kreativitas baru. Dari ketiga aspek tersebut sesungguhnya dapat dijumpai dlam QS. An Nahl, 16:78
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ
Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
pada ayat tersebut kata al-sama’ (pendengaran) yang dapat diartikan aspek psikomotorik, karena pendengaran terkait dengan salah satu panca indera manusia yang paling berperan dalam kegiatan pembelajaran; kata al-bashar (penglihatan) yang dapat diartikan aspek kognitif karena penglihatan dalam arti pemahaman terkait dengan salah satu unsur pemikiran manusia; kta af’idh (hati) dapat diartikan aspek afektif krena hati terkait dengan salah satu unsur afektif.
Sedangkan menurut Sardiman yang merujuk pada Thomas F. Staton mengemukakan bahwa secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern (fisiologis dan psikologis) dan faktor ekstern. Thomas F. Staton mengurikan ada 6 faktor psikologis yang diperlukan dalam kegitan belajar, yaitu: motivasi, konsentrasi, reaksi, organisasi, pemahaman dan ulangan. Kalau Thomas membagi kegiatan beljar menjadi 6 bagian, maka berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sardiman, dimana beliau membaginya menjadi 8 bagian, yaitu: perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat dan motiv.


KESIMPULAN
Belajar dapat dikatakan sebagai upaya tingkah laku dengan serangkaian kegitan, misalnya: membaca, mengamati, meniru dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain belajar sebgai kegiatan psikofisik untuk menuju keperkembangan pribadi seutuhnya. Oleh karen itu dlm beljar perlu adanya proses internalisasi, sehingga akan menyangkut 3 matra seperti yang diungkapkan oleh Bloom, yaitu: kognitif, afektif dan juga psikomotorik.
Dua faktor utama yang menentukan dalam proses belajar, yaitu: hereditas dan lingkungan. Hereditas adalah bawaan seseorng yang terjdi sejak lahir, seperti: bakat, abilitas, dan intelegensi. Sedangkan pada aspek lingkungan yang paling berpengaruh adalah orang dewasa sebagai unsur manusia yng menciptakan lingkungan, yaitu: guru dan orang tua. Faktor lainnya yang tidak kalah penting yaitu aspek jasmaniah seperti: penglihtan, pendengaran, biokimia, susunan syaraf dan respons individu terhadap perangsang dengan berbagai kekuatan dan tujuannya.
Dalam kegiatan belajar juga memiliki bnyak prinsip, yaitu: harus ada aktifisa untuk menunjukkan potensinya, perlu adanya motivasi dan keadaan siswa perlu diperhitungkan. Belajar ditujukan untuk mendapatkan pengetahuan, pemhaman konsep dan keterampilan serta pembentukan sikap.


DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar dan Mengajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Sudrajat, Ahmad. 2008. Artikel berjudul Pengertian Belajar dan Perubahan Perilaku dalam Pembeljaran.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif edisi pertama cetakan ke-3. Jakarta. Kencana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar