Ing ngarso sun tuladha ing madya mangun karsa tut wuri handayani

Animasi

Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 12 April 2011

Psikologi Belajar Mengajar

PEMBAHASAN

Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak. Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.
Tujuan psikologi pendidikan ialah menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori psikologi yang berkaitan dengan pendidikan unutuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Pendidik merupakan upaya dalam mempengaruhi individu agar berkembang menjadi manusia yang sesuai dengan yang dikehendaki. Peranan psikologi dalam pembelajaran pengajaran upaya untuk mewujudkan perilaku pembelajaran pada siswa, serta perilaku-perilaku individu lain yang terkait. Beberapa peranan tersebut antara lain : memahami siswa sebagai pelajar, memahami prinsip-prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pembelajaran dan pengajaran, menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran, memilih dan menetapkan isi pengajaran, membantu sisiwa-siswa yang mendapat kesulitan pembelajaran, memilih alat bantu pembelajran dan pengajaran.
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu tanya atau mempertanyakan sesuatu, mulia dari hal-hal yang sangat sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Oleh karena itu, mengapa manusia belajar? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan. Jawaban lengkapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahun dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui.
Kemampuan manusia untuk belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Kelakuan dan kemampuan melakukan sesuatu pada hewan tidak diperoleh melalui proses belajar, tetapi melalui mekanisme naluri yang berkembang dengan sendirinya, dan tidak dapat meningkat karena dibatasi oleh suatu pola yang sudah tertentu. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut. Oleh karena itu, latar belakang dalam penyusunan makalah ini yakni mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar?, ciri-ciri belajar dan sebagainya.
Dalam penyunan resum ini, penyusun mengutip materi yang bersumber dari Oemar Hamalik dari bukunya yang berjudul Psikologi Belajar Mengajar, yang didalamnya menjelaskan tentang:
1. Studi Psikologi Pendidikan
Anak pada hakikatnya adalah manusia yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungan dimana mereka berada, maka dari itu kita punya tanggungjawab yang besar dalm tumbuh kembang mereka. Salah satu cara atau langkah yang tepat bagi mereka adalah membiarkan tapi tetap terus dalam pengawasan karena anak-anak itu bersifat netral-aktif. Interaksi itu berlangsung dalam dunia pendidikan, khususnya di dalam kelas.
Psikologi pendidikan tidak hanya memberikan pedoman tentang teori belajar, system persekolahan, masalah-masalah psikologis anak, tetapi dimulai dari studi tentang perkembangan dan pertumbuhan anak, sejak tahun-tahun pertama sampai kepada tingkat remaja.
Sebagai calon guru perlu dan sangat dianjurkan untuk mempelajari tentang psikologi pendidikan karena dengan mempelajari psikologi pendidikan khususnya psikologi anak dan remaja, maka akan mendapatkan bantuan yang sangat berharga dalam mengemban tugas selaku pendidik.
Peran guru adalah membantu para siswa untuk mengubah tingkah lakunya sesuai dengan arah yang diinginkan. Dalam hal ini terdapat dua factor utam, yakni proses (perubahan tingkah laku) dan criteria (arah yang diinginkan secara khusus) yang telah dirumuskan dalam tujuan pendidikan.
2. Pendidikan di Sekolah
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, yaitu:
· Pendidikan penyesuaian hidup para remaja
Pendidikan penyesuaian hidup (life adjustment) adalah yang diberikan kepada semua remaja agar mereka kelak hidup secara demokratis yang memberikan kepuasan kepada diri mereka sendiri dan menguntungkan bagi masyarakat.
· Penyesuaian diri versus pendidikan
· Mengapa pendidikan absolute
Pendidiak yang absolute adalah pendidikan yang sesuai dengan perubahan masyarakat dan menyampaikan penemuan baru dan ciptaan yang baru, yang diselenggarakan melalui transmisi lateral sebagai kebalikan dari tarnsmisi vertical, yang hanya menyampaikan kebijaksanaan masa lampau secara verbalistis dan bersumber dari buku, bukan pengembangan semua kompetensi yang melalui latihan.
Pendidikan tidak hanya berlaku bagi mereka yang hidupnya normal, tidak berlaku bagi mereka yang kaya saja, melainkan berlaku bagi semuanya. Kaya, miskin, anak yang terbelakang mentalnya, untuk anak yang tidak berbakat, untuk anak yang berbakat, bagi anak yang ada di kota/desa/daerah terpencil semuanya berhak dan layak untuk mendapatkan pendidikan
Guru tidak hanya sebagai orang tua kedua bagi anak tetapi juga harus bisa sebagai sahabat dan saudara. Sebagai guru juga harus bias menguasai dan mengerti semua keadaan, mulai dari karakter anak yang berbeda-beda juga bidang yang sudah digelutinya, jangan sampai menjadi pendidik atau guru tidak menguasai materi atau karakter anak.
3. Guru dan Belajar Mengajar
Dalam zaman yang serba canggih ini peran guru sangat berarti dan sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak, guru juga harus lebih menguasai semua bidang yang berkaitan dengan dunia pendidikan terlebih lagi penguasaan akan IPTEK dan diharapkan supaya guru selaku tenaga pendidik tidak GAGAP IPTEK. Maju tidaknya masyarakat ada di pundak guru, guru juga mempunyai sifat ganda, yaitu: sebagai pembimbing kegiatan belajar siswa dan sebagai pengajar dalam proses belajar-mengajar.
Guru-guru yang efektif mempunyai pengaruh yang kuat dan positif terhadap para siswa, sedang guru-guru yang lemah akan menimbulkan ketidaksenangan siswa terhadap sekolah
4. Hakikat dan Teori Belajar
Belajar tidak hanya meliputi mata pelajaran saja, akan tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, penyesuaian social, bermacam-macam keterampilan dan cita-cita. Belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku atau perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek, dan pengalaman. Pada hakikatnya belajar adalah membuat seseorang atau anak / siswa berubah lebih baik lagi. Perubahan tidak akan terjadi apabila: tidak adanya respon yang baik, dan lingkungan belajar yang mendukung.
Ada beberapa teori belajar yang perlu kita ketahui, yaitu:
Teori Conditioning: teori yang menitikberatkan pada timbulnya respon yang disebabkan oleh suatu stimulus tertentu yang melalui proses kontiguitas.
Teori Connectionisme yang menekankan bahwa belajar adalah pembentukan ikatan atau hubungan antara stimulus-respons melalui proses pengulangan.
Field Theory yang menekankan keseluruhan bagian-bagian antara yang satu dengan yang lainnya erat hubungannya dan saling bergantung.
Psikologi Fenomenologis dan humanitas yang menitikberatkan kondisi-kondisi dalam diri individu.
Teori S.R Relativistik yang menitikberatkan pandangan bahwa tingkah laku manusia merupakan moral behavior dan keseluruhan perilaku terhadap stimulus dan terdapat hubungan bipolar antar persona dan lingkungan.
5. Pola Dasar Pengajaran
Sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk mengenal dan memahami setiap siswa, memberikan informasi yang diperlukan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar sesuai dengan karakterisitik pribadinya, dan menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukan siswa. Proses pengajaran yang efektif yang dapat terbentuk melalui pengajaran memiliki ciri-ciri di antaranya : berpusat pada siswa itu sendiri, interaksi edukatif antara guru dengan siswa, suasana demokratis, variasi metode mengajar, guru profesional, bahan yang sesuai dan bermanfaat, lingkungan yang kondusif, dan sarana belajar yang menunjang. Mengajar adalah merupakan tugas utama seorang guru. Oleh karena itu, keefeektifannya dalam mengajar akan tergantung pada bagaimana guru melaksanakan aktivitas mengajar secar baik. Psikologi guru merupakan suatu peran yang sangat penting, perilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan perilaku dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, perilaku guru hendaknya dapat menjadi contoh yang baik untuk siswa. Ada beberapa aspek psikologi yang terkait dengan proses pembelajaran dan pengajaran yaitu motivatasi, pengamatan dan perhatian, mengingat dan lupa, transfer dalam belajar dan kebutuhan individu. Itu semua yang akan mempengaruhi proses belajar.
6. Tujuan Pengajaran
Tujuan dalam pengajaran terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
· Tujuan sekolah
· Tujuan guru
· Tujuan siswa
Dari tujuan-tujuann tersebut diatas mempunyai tujuan yang berbeda akan tetapi satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Tujuan guru dan siswa disebut tujuan instruksional yang disusun berdasarkan atau bertitik tolak dari tujuan sekolah yang sering disebut tujuan institusional. Penetapan tujuan-tujuan itu dilandasi oleh pemikiran yang bersifat psikologis, yang titik beratnya pada aspek belajar (siswa) dan aspke mengajar (guru). Berbeda halnya dengan skala pemikiran yang lebih luas dimana tujuan dibagi kedalam jenjang-jenjang: tujuan pendidikan nasional, tujuan kelembagaan, tujuan kurikuler (mata ajaran), tujuan institusional umum dan tujuan instruksional khusus. Tujuan instruksional merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar. Tujuan ini mencakup tujuan guru dan tujuan siswa yang dirumuskan berdasarkan pemikiran psikologis. Tujuan sekolah menunjuk kepada tujuan-tujuan yang luas sesuai dengan keinginan suatu masyarakat atau bangsa yang memiliki dimensi-dimensi ekonomi, politik dan social.
7. Dasar-dasar Perkembangan
Secara psikologis hakikat perkembangan mencakup pertumbuhan yang mengandung aspek: kematangan, perkembangan, belajar (suatu psoses kreatif), dan perkembangan kepribadian.prinsip yang mendasari perkembangan menggambarkan adanya interaksi antara organime dan lingkungan, perkembangan berlangsung lebih cepat pada tahun-tahun permulaan, keberhasilan latihan bergantung pada tingkat kematangan, pola-pola perilaku berkembang secara berurutan, laju perkembangan bersifat individual dan bersifat konstan, dan merupakan diferensiasi dan integrasi yang secara keseluruhan mempunyai implikasi tertentu terhadap pendidikan. Tahap-tahap perkembangan dapat dikembalikan kepada suatu teori lingkaran hidup.
8. Anak Sebagai Siswa
Anak-anak tidak mempunyai tilikan dan pengalaman yang memungkinkan mereka dapat menerima sepenuh hati tujuan-tujuan yang telah dirumuskan oleh orang dewasa. Kalau anak bertanya tentang sesuatu, yang penting bukanlah jawabannya yang menjadi tujuan melainkan proses berbicaranya itu sendiri. Itulah sebabnya anak selalu bertanya sekalipun orang dewasa sudah memberikan jawabannya. Kebutuhan dasar anak terdiri atas kebutuhan akan tujuan-tujuan yang dekat karena mereka belum memiliki konsep waktu yang jelas.
9. Remaja Sebagai Siswa
Karakteristik para remaja dapat dilihat dari 3 segi, yaitu: konsep masa remaja, keunikan para remaja, dan kebutuhan para remaja. Masa remja merupakan masa permulaan pubertas dan kedewasaan yang ditandai oleh tekanan dan ketegangan, sifat yang lebih sensitive, pertentangan nilai-nilia dan harapan dan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Remaja memiliki banyak sekali potensi dan karenanya pengukurannya menggunakan macam-macam tes guna mengetahui kepribadian mereka.
10. Belajar dan Mengajarkan Perilaku
Keterampilan motorik adalah serangkaian gerakan otot untuk menyelesaikan tugas dengan berhasil. Keterampilan memiliki karakteristik menunjukkan serangkaian respons motorik, melibatkan koordinasi gerakan tangan dan mata, mengordinasi rangkaian-rangkaian respons menajdi pola-pola respon yang kompleks. Belajar keterampilan terdiri atas tahap-tahap kognitif, fiksasi dan otonom. Kondisi-kondisi keterampilan adalah contiguity, latihan, dan balikan. Prodesur belajar mengajar keterampilan meliputi telaah keterampilan, penilaian perilaku dasar siswa, pengembangan latihan dalam komponen unit keterampilan, pendemonstrasian keterampilan pada siswa, dan penyediaan kondisi belajar keterampilan.
11. Pengalaman Belajar
Bagi setiap siswa yang berada dalam situasi belajar bahwa pengalaman belajar dirasa sangat penting bagi perubahan perilaku siswa dan bagi perkembangan kepribadiannya. Banyak pakar yang berpendapat bahwa hasil belajar dengan system pengajaran kelompok ternyata lebih baik, siswa lebih bersemangat, dan peran sertanya lebih aktif. Untuk itu diperlukan kebebasan dalam belajar dan tidak adanya rasa kecemasan setiap siswa pada waktu mengikuti tes.
12. Motivasi Belajar
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar
Guru sebagai seorang pendidik harus tahu apa yang diinginkan oleh para siswanya. Seperti kebutuhan untuk berprestasi, karena setiap siswa memiliki kebutuhan untuk berprestasi yang berbeda satu sama lainnya. Tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah, mereka cenderung takut gagal dan tidak mau menanggung resiko dalam mencapai prestasi belajar yang tinggi. Meskipun banyak juga siswa yang memiliki motivasi untuk berprestasi yang tinggi. Siswa memiliki motivasi berprestasi tinggi kalau keinginan untuk sukses benar-benar berasal dari dalam diri sendiri. Siswa akan bekerja keras baik dalam diri sendiri maupun dalam bersaing dengan siswa lain.
13. Bimbingan dan Belajar
Bimbingan merupakan suatu proses member bantuan kepada individu agar dapat mengenal dirinya dan dapat memecahkan masalah dalam hidupnya sehingga ia dapat menikmati hidup dengan bahagia. Peran guru dalam kelas, disamping sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Untuk meningkatkan pelayanan bimbingan bagi siswa, guru hendaknya membuat catatan lengkap tentang siswanya, melakukan observasi dan mempelajari remaja, bekerjasama dengan para guru, mempelajari kebutuhan dan minat siswa, bekerjasama dengan para orang tua siswa, melaksanakan bimbingan kelompok, melakukan usaha penyesuaian terhadap siswa, bertindak sebagai sponsor kegiatan siswa, bekerjasama dengan ahlim bimbingan.
14. Penilain Perilaku
Aktivitas belajar, perlu diadakan evaluasi atau penilaian. Hal ini penting karena dengan evaluasi kita dapat mengetahui apakah tujuan belajar yang telah ditetapkan dapat tercapai atau tidak. Pengukuran dan evaluasi mempunyai kaitan yang erat, tetapi mengandung titik beda. Tetapi pengukuran perlu karena menjadi landasan untuk melakukan penilaian. Penilaian berfungsi untuk membantu siswa merealisasikan diri, memperoleh kepuasan, memantapkan keefektifan metode mengajar, dan untuk pertimbangan administrative. Tujuan utama penilaian dititikberatkan pada pemberian informasi tentang kemajuan individu yang berguna juga untuk melakukan pembinaan kegiatan belajar siswa, untuk mengetahui tingkat kemajuan siswa, member motivasi belajar, dan untuk membantu pertumbuhan siswa dan bimbingan belajar.


KESIMPULAN
Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah di atas bumi dilengkapi dengan akal sehat serta hasrat ingin tahu, sehingga ia selalu tanya atau mempertanyakan sesuatu, mulia dari hal-hal yang sangat sederhana sampai kepada hal-hal yang sangat rumit. Oleh karena itu, mengapa manusia belajar? Jawabannya adalah karena ia ingin mengetahui atau memperoleh pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan. Jawaban lengkapnya adalah manusia belajar karena mempunyai bakat untuk belajar, yang dipacu oleh sikap ingin tahu dan didukung oleh kemampuan untuk mengetahui.
Kemampuan manusia untuk belajar adalah ciri yang sangat penting yang membedakan manusia dengan hewan. Kelakuan dan kemampuan melakukan sesuatu pada hewan tidak diperoleh melalui proses belajar, tetapi melalui mekanisme naluri yang berkembang dengan sendirinya, dan tidak dapat meningkat karena dibatasi oleh suatu pola yang sudah tertentu. Belajar bagi manusia memainkan peranan penting dalam pewarisan kebudayaan berupa kumpulan pengetahuan nilai sikap dan keterampilan kepada generasi pelanjut.
Sebagi objek sasaran dalam proses belajar mengajar adalah anak didik sebagai manusia individu yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain, maka dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik perlu memperhatikan faktor psikologi karena pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang diperolah melalui belajar mengajar, tidak dapat dipisahkan dari psikologi. Guru sebagai pendidik/pengajar menjadi subjek yang mutlak harus memiliki pengetahuan psikologi sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik, setidaknya dalam meminimalisir kegagalan dalam menyampaikan mataeri pelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar